Kamis, 28 Januari 2010

sejarah anggota BPUPKI

Abdul Wahid,
Pagi itu, Jum’at legi, 5 Rabi’ul Awal 1333 H./1 Juni 1914 M. namanya Muhammad Asy’ari,. Namanya kemudian diganti dengan Abdul Wahid,
Abdul Wahid adalah putera kelima pasangan Kiai Hasyim-Nyai Nafiqah binti Kiai Ilyas (Madiun). Dia anak laki-laki pertama dari 10 bersaudara.
Dr.R.Koesoema Atmadja

SOETARDJO KARTOHADIKOESOEMO

Soetardjo Kartohadikoesoemo dilahirkan pada 22 Oktober 1890. Orang tua laki-laki Soetardjo adalah seorang Assistant-Wedono di onder-distrik Kunduran, Ngawi, yaitu Kiai Ngabehi Kartoredjo. Sedangkan Ibunda Soetardjo, Mas Ajoe Kartoredjo, adalah keturunan keluarga pemerintahan dari Banten. Keluarga Soetardjo adalah keluarga pamong praja. Semua saudara laki-lakinya menjadi pegawai negeri, sedangkan yang perempuan menjadi istri pegawai negeri.

Jendral Soedirman

Jendral Soedirman (EYD: Sudirman) (Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, 24 Januari 1916—Magelang, 29 Januari 1950) adalah seorang pahlawan Indonesia yang berjuang pada masa upaya kemerdekaan Republik Indonesia.
Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta
Sudirman mengenyam pendidikan dasar di sekolah HIS di Cilacap pada 1923-1930, dilanjutkan ke sekolah MULO Taman Dewasa (hanya 1 tahun), dan pindah ke Perguruan Parama Wiworotomo (selesai 1935). Kemudian Sudirman melanjutkan ke sekolah HIK di Solo, meski tidak tamat.
Semasa sekolah, Sudirman muda aktif dalam kegiatan kepanduan. Pertama ia bergabung dengan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI), kemudian menjadi anggota Kepanduan Hizbul Wathan (HW) Muhammadiyah.

Haji Agus Salim

Haji Agus Salim (lahir dengan nama Mashudul Haq (yang bermakna "pembela kebenaran"); Koto Gadang, Bukittinggi, Minangkabau, 8 Oktober 1884–Jakarta, 4 November 1954) adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.
Agus Salim lahir dari pasangan Angku Sutan Mohammad Salim dan Siti Zainab. Ayahnya adalah seorang kepala jaksa di Pengadilan Tinggi Riau.
Pendidikan dasar ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda.
Setelah lulus, Salim bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Pada tahun 1906, Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana. Pada periode inilah Salim berguru pada Syeh Ahmad Khatib, yang masih merupakan pamannya.


Johannes Latuharhary
Johannes Latuharhary adalah putra daerah Maluku pertama yang meraih gelar Meester in de Rechten di Universitas Leiden. Sepulangnya dari Belanda. ia bekerja menjadi pegawai pada ketua pengadilan tinggi di Surabaya pada Desember 1927 – Maret 1929. Ia aktif dalam Sarekat Ambon dan pergerakan Nasional dan banyak membwa ide dan persepektif baru dari Eropa. Ia juga menjadi pemimpin umum media Sarekat Ambon “Haloean”. Ia diangkat menjadi Hakim di Surabaya, lalu menjadi Ketua Pengadilan Negeri di Jawa Timur selama 2 tahun, lalu ia memutuskan berhenti supaya dapat lebih aktif dalam organisasi pergerakan. Lalu ia diangkat menjadi Dewan Perwakilan Kabupaten Jawa Timur, kemudian ia pindah ke Malang dan menjadi anggota Dewan Perwakilan Propinsi Jawa Timur di Surabaya. Ia juga mengetuai Fraksi Nasional sampai Jepang masuk ke Indonesia. Pada saat pembentukan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia ersiapan Kemerdekaan Indonesia) Johanes menjadi anggota yang mewakili Maluku. Ia juga hadir pada saat perumusan naskah proklamasi di rumah Laksamana Tadashi Maeda. Selain itu ia menjadi wakil ketua dalam KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat).




NAMA :A.A. MARAMIS
- Anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), 1945
- Menteri Luar Negeri Kabinet Presidensial, 19 Desember 1948 - 13 Juli 1949
- Menteri Luar Negeri Pemerintah Darurat Indonesia (PDRI) yang berkedudukan di New Delhi, India
- Duta Besar Indonesia untuk Filipina, Jerman Barat, dan Rusia



A.R. Baswedan
Gender: Laki-laki
Tempat/Tanggal Lahir: Ampel, Surabaya, Jawa Timur,, 11 September 1908
Riwayat Hidup
Pada tahun 1932 Baswedan masuk menjadi anggota redaksi harian Tionghoa Melayu di Surabaya, "Sin Tit Po", pimpinan Liem Koen Hian, seorang peranakan Tionghoa, pendiri Partai Tionghoa Indonesia (PTI). Masuknya Baswedan ke Sin Tit Po diawali saat hendak memenuhi permintaan mertuanya




Wongsonegoro
General Chairman of the Central Board of IPSI 1948-1973. Doc. cbpersilat


R. Otto Iskandar Dinata
lahir pada tanggal 31 Maret 1897 di Bandung. Setelah menamatkan HIS (Hollandsch-Inlandsche School) di Bandung, ia melanjutkan pelajarannya di HKS (Hoogere Kweek School atau Sekolah Guru Atas) Jawa Tengah. memasuki Budi Utomo dan diangkat sebagai wakil Budi Utomo dalam Dewan Kota. Tahun 1928 ia pun dipindahkan ke Jakarta. ia masih memprakarsai berdirinya "Sekolah Kartini".Sering dijuluki "Si Jalak Harupat" atau "Burung jalak yang berani".
Diangkat sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 088/TK/Tahun 1973, tanggal 6 Nopember 1973



Mr. Suwandi (Surakarta, Oktober 1899 - 6 Maret 1964)
Menteri Pengajaran (Kabinet Sjahrir III, Periode: 2 Oktober 1946 - 27 Juni 1947)



Sanusi Hardjadinata (Garut, 24 Juni 1914 - 12 Desember 1995)
Menteri P dan K (Kabinet Ampera yang disempurnakan, Periode: 11 Oktober 1967 - 6 Juni 1968


Soekirman
Kepala Perwakilan
Duta Besar LBBP
Masa Bakti
1972 – 1976



Abdul Hamid M.A.
Kepala Perwakilan
Duta Besar LBBP
Masa Bakti
1970 – 1972


BOENTARAN MARTOATMODJO
Ia adalah wakil ketua dari Tyuooo Sangi-In (semacam Volksraad) buatan pemerintahan pendudukan Jepang dan anggota dari organisasi pemuda pergerakan kemerdekaan Indonesia, salah satu pendiri dan ketua PELTI (Persatuan Lawn Tenis Indonesia) pertama selama 5 tahun sejak pendiriannya pada 26 Desember 1935 Ia pulalah yang membentuk PMI (Palang Merah Indonesia) pada tanggal 5 September 1945 atas perintah Presiden Soekarno. Ia pernah pula menjabat sebagai anggota Seksi Kemasyarakatan Bappenas periode 21 September 1959 - 18 November 1959.


DR.K.R.T RADJIMAN WIDYODININGRAT
Dr. Radjiman adalah salah satu pendiri organisasi Boedi Oetomo dan sempat menjadi ketuanya pada tahun. Dimulai dari munculnya Boedi Utomo sampai pembentukan BPUPKI. Pada tanggal 9 Agustus 1945 ia membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Saigon dan Da Lat untuk menemui pimpinan tentara Jepang untuk Asia Timur Raya terkait dengan pemboman Hiroshima dan Nagasaki yang menyebabkan Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, Di masa setelah kemerdekaan RI Radjiman pernah menjadi anggota DPA, KNIP dan pemimpin sidang DPR pertama di saat Indonesia kembali menjadi negara kesatuan dari RIS.
Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.
Ia kemudian menulis "Een voor Allen maar Ook Allen voor Een" atau "Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga". Namun kolom KHD yang paling terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: "Als ik eens Nederlander was"). Tahun 1913. Kutipan tulisan tersebut antara lain sebagai berikut.
"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlanderdiharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya".
Beberapa pejabat Belanda menyangsikan tulisan ini asli dibuat oleh Soewardi sendiri karena gaya bahasanya yang berbeda dari tulisan-tulisannya sebelum ini. Kalaupun benar ia yang menulis, mereka menganggap DD berperan dalam memanas-manasi Soewardi untuk menulis dengan gaya demikian. Juga pendiri Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa pada tanggal 3 Juli 1922.



Abikoesno Tjokrosoejoso (1897 - 1968), sering dieja Abikusno Tjokrosujoso, adalah Menteri Perhubungan dan Menteri Pekerjaan Umum pertama Indonesia. Ia merupakan tokoh Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan merupakan salah satu penandatangan Piagam Jakarta (1945).


Achmad Soebardjo
aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui beberapa organisasi seperti Jong Jawa dan Persatuan Mahasiswa Indonesia di Belanda. Pada bulan Februari 1927, beliau pun menjadi wakil Indonesia bersama dengan Mohammad Hatta dan para ahli gerakan-gerakan Indonesia pada persidangan antarbangsa "Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Penjajah" yang pertama di Brussels dan kemudiannya di Jerman. Pada persidangan pertama itu juga ada Jawaharlal Nehru dan pemimpin-pemimpin nasionalis yang terkenal dari Asia dan Afrika[1]. Sewaktu kembalinya ke Indonesia, beliau aktif menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).Dan pada tanggal 17 Agustus 1945, Soebardjo dilantik sebagai Menteri Luar Negeri pada Kabinet Presidensial, kabinet Indonesia yang pertama, dan kembali menjabat menjadi Menteri Luar Negeri sekali lagi pada tahun 1951 - 1952. Selain itu, beliau juga menjadi Duta Besar Republik Indonesia di Switzerland antara tahun-tahun 1957 - 1961.

Sartono (5 Agustus 1900 - 1968) adalah tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia dan menteri pada kabinet pertama Republik Indonesia. Tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partindo ini juga pernah menjabat ketua parlemen sementara (DPRS) pada Republik Indonesia Serikat (1949) dan ketua Dewan Perwakilan Rakyat antara tahun 1950 sampai1959.
Dilahirkan di Wonogori sebagai keturunan bangsawan Jawa, Sartono berturut-turut mengikuti pendidikan di HIS, MULO, AMS, dan RHS yang ditamatkannya pada tahun 1922. Ia kemudian meneruskan pendidikannya ke Universitas Leiden Belanda dan mendapatkan gelar Meester in de Rechten pada tahun 1926.


SUPOMO
Antara tahun 1924 dan 1927 Soepomo mendapat kesempatan melanjutkan pendidikannya ke Rijksuniversiteit Leiden di Belanda di bawah bimbingan Cornelis van Vollenhoven, profesor hukum yang dikenal sebagai "arsitek" ilmu hukum adat Indonesia dan ahli hukum internasional, salah satu konseptor Liga Bangsa Bangsa. Thesis doktornya yang berjudul Reorganisatie van het Agrarisch Stelsel in het Gewest Soerakarta(Reorganisasi sistem agraria di wilayah Surakarta) tidak saja mengupas sistem agraria tradisional di Surakarta, tetapi juga secara tajam menganalisis hukum-hukum kolonial yang berkaitan dengan pertanahan diwilayah Surakarta (Pompe 1993). Ditulis dalam bahasa Belanda, kritik Soepomo atas wacana kolonial tentang proses transisi agraria ini dibungkus dalam bahasa yang halus dan tidak langsung, menggunakan argumen-argumen kolonial sendiri, dan hanya dapat terbaca ketika kita menyadari bahwa subyektivitas Soepomo sangat kental diwarnai etika Jawa (lihat buku Franz Magnis-Suseno "Etika Jawa" dan tulisan-tulisanBen Anderson dalam Language and Power sebagai tambahan acuan tentang etika Jawa untuk memahami cara pandang dan strategi agency Soepomo).

Raden Mas Pandji Soerachman Tjokroadisoerjo (1894 - 1954), atau sering pula dieja Pandji Surachman Tjokroadisurjo, adalah Menteri Kemakmuran pada Kabinet Presidensial dan Menteri Keuangan pada Kabinet Sjahrir I. Lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, ia menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1920 di Sekolah Tinggi Teknik bagian Kimia di Delft, Belanda. Ia merupakan satu-satunya sarjana teknik bidang kimia di Indonesia pada saat itu.
R.A. Wiranatakusumah II atau yang sering dijuluki "Dalem Kaum I" adalah seorang bupati untuk kabupaten Bandung yang keenam. Ia menjadi bupati sejak tahun 1794 hingga tahun 1829. Dalam pandangan masyarakat pribumi, ia adalah “Bapak Pendiri Kota Bandung”. Ia pun juga termasuk seorang bupati Bandung yang pada masa kolonial kepemimpinan dan kinerjanya cukup menonjol selainR.A. Wiranatakusumah IV (1846-1874), R.A. Kusumadilaga (1874-1893), dan R.A.A. Martanagara (1893-1918). Ketika kabupaten Bandung dipimpin olehnya, kekuasaan di Nusantara yang awalnya dikuasai VOC diambil alih ke pemerintahan Hindia Belanda, dengan Gubernur Jenderal pertama Herman Willem Daendels (1808-1811)., Bupati R. A. Wiranatakusumah II adalah pendiri kota Bandung. Kota Bandung diresmikan sebagai ibukota baru Kabupaten Bandung dengan surat keputusan tanggal 25 September 1810.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar